Candi Cetho, Karanganyar (Jateng)

CANDI CETHO

 

GUNUNG Lawu memiliki arti penting bagi umat Hindu di Nusantara, terutama masyarakat Jawa Tengha. Selain karena masih menyimpan peninggalan candi Hindu, gunung yang menjulang di wilayah Karanganyar dan Magetan dini diyakini sebagai tempat moksa Raja Majapahit,Brawijaya V. Salah satu jejak Hindu di lereng Gunung Lawu ini adalah Candi Ceto di ketinggian 1.400 meter dpl.

Candi ini berada tdak jauh dari komplek Candi Sukuh, tepatnya berada di Kelurahan Gumeng, Kecamatan Jenawi, Karanganyar, Jawa Tengah. Berada di sekitar kawasan Candi Ceto, kita dapat merasakan suasan seperti di kawasan Pulau Dewata, hal ini dikarnakan suasana tempat dan banguna candi ini yang menyerupai pura yakni tempat peribadatan agama Hindu. Ya, selain menjadi obyek wisata, candi purba ini juga pusat tempat peribadatan masyarakat sekitar yang mayoritas beragama Hindu. Umat Hindu dari berbagai berbagai daerah juga kerap datang untuk merayakan hari besar keagamaan. Sebut saja misalnya, setiap malam Jumat Kliwon, orang-orang berdutun-duyun ke candi ini untuk mengantarkan sesaji, sekaligus menjalankan ritual tapa brata atau semedi.

Pada hari Nyepi, umat Hindu di Karanganyar memilih melakukan tapa brata penyepian di area candi. Sama seperti tempat-tempat peribadatan agama lain, candi ceto sangat disucikan oleh umat Hindu. Tidak sembarang orang atau wisatawan baik asing maupun domestik diizinkan masuk, lebih-lebih mereka yang sedang datang bulan. Masyarakat sekitar mempercayai apabila larangan dilanggar, maka si peloanggar akan celaka.

Candi ini tentu saja merupakan bentuk peninggalan budaya Majapahit. Di candi ini pula jejak jekayaan kerjaan tebesar di Nusantara tersebut, seperti arca-arca yang bercerita tentang Samuderamanthana dan Garudeya, kemudian arca Sabda Palon, tokoh spritual Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, yang berda di halaman depan candi. Ada pula patung Dewi Saraswati yang merupakan simbol kebijaksanaan yang berhiaskan peralatan sembahyang. Bahkan cerita yang berkembang di masyarakat Karanganyar dan sekitarnya, Raja Majapahit, Prabhu Brawijaya V, sebelum moksa terlebih dahulu meruwat diri di Candi Sukuh yang berada di deretan bawah Candi Ceto. Usai mensucikan diri secara alam niskala, barulah sang raja mengakhiri hidupnya dengan jalan moksa di Candi Ceto. Ini memang sebuah kisah lama yang hingga kini tetap tersimpan dan diyakini kebenarannya oleh masyarakat sekitar candi.

Secara keseluruhan, arsitektur Candi Ceto ini mengingatkan pada kebudayaan Maya dan Aztec kuno di Amerika Tengah. Bangunannya berbentuk punden berundak-undak, seperti halnya Candi Sukuh. Semakin ke belakang semakin bertambah tinggi, dan tentu saja berkesan semakin sakral. Secara filosofis posisi tempat suci seperti ini menyiratkan keyakinan bahwa gunung adalah suci, tempat arwah nenek moyang berdiam.

 

Bagian Candi Ceto

Candi Ceto terbagi ke dalam tiga halaman, mengikuti konsep trimandala (hulu, tengah, dan hilir), dengan duabelas teras. Masing-masing teras ditandai dengan ciri-ciri khusus, seperti arca dan relief ajaran Hindu. Halaman pertama yang lokasinya di bawah, ditandai dengan dua gapura yang menjulang. Pada halaman pertama ini bisa ditemukan dua arca laki-laki yang sedang duduk bersimpuh menghadap ke arah barat, serta satu arca perempuan duduk bersimpuh menghadap ke timur. Teras berikutnya, setelah melewati undak-undakan dan gapura, adalah halaman tengah. Di bagian ini terdapat arca laki-laki.

Seanjutnya adalah teras ketiga. Di tempat ini ada bangunan gapura (candi bentar), seperti rumah suci yang kerap kita jumpai di Bali. Di teras empat juga masih kita dapati arca laki-laki. Untuk menuju teras lima, mesti melewati tangga masuk dua buah undakan, dengan punden berundak di sebelah utara (kiri). Bangunan ini ditutupi sebuah bangunan kayu beratapkan ijuk. Masyarakat turunan Gunung Lawu menyebut punden berundak ini sebagai Krincing Wesi, dan diyakini sebagai penunggu kawasan Ceto. Tiap enam bulan, pada hari Selasa Kliwon, di halaman punden digelar satu ritus suci upacara Madasiya. Ritual yang sesajiannya berupa nasi tumpeng, buah, bunga, air, dan dupa. Ritual ini merupakan upacara ungkapan terima kasih warga Desa Ceto dan sekitarnya, karena Kerincing Wesi menjaga dan memberi perlindungan serta keselamatan bagi kawasan Ceto.

Teras enam tak menyisakan peninggalan arkeologi. Memasuki teras ketujuh, pada bagian selatan gapura terdapat tulisan “peling pedamel irikang bu, ku tirta sunya hawaki, ray a hilang, saka kalanya wiku, goh anahut iku 1397, yang artinya “peringatan pembuatan buku tirta sunya badannya hilang tahun 1397 Saka”. nah, jika berpijak pada angka tahun yang tertera pada teras ketujuh tersebut, berarti pada tahun 1397 saka atau pada tahun 1475 Masehi atau pada abad ke-15, Candi Ceto telah berdiri kukuh.

Masih di pintu gerbang teras tujuh, pada pintu masuk gapura, di kanan kirinya terdapat arca manusia menghadap ke timur. Sedangkan di halaman tengah terdapat phallus vulva (lingga- yoni) yang dihiasi pahatan cicak, ular, katak, kadal, mimi, ketam, dan belut. Jika dilihat dari konsep ajaran Hindu, simbol ini merupakan wujud penyatuan unsur laki dan perempuan, lambang lingga-yoni sekaligus sebagai simbol kesuburan. Sedangkan dari sudut pandang megalitik, simbol phallus vulva sebagai wahana pemujaan terhadap arwah nenek moyang, roh leluhur yang diistanakan di gunung. Di sebelah timurnya ada tiga buah lingkaran sinar, yang di bagian bawahnya terdapat arca kura-kura di atas burung garuda yang sedang mengembangkan sayapnya. Pada sisi kiri dan kanan arca terdapat tumpukan batu dan di sebelah timurnya terdapat arca laki-laki sedang duduk menghadap ke barat. Di areal ini ada pula arca manusia berdiri menghadap barat, menggambarkan Dwarapala.

Tentu saja patung palus raksasa ini sama sekali tak bermaksud porno. Simbol ini, menurut Soe Tjen Marching, dosen di Ballarat University, Australia, lebih untuk melambangkan keseimbangan alam dan harmoni. Selama ini memang Candi Ceto telah lama dirujuk bagaimana sensualitas menjadi bagian sejarah panjang budaya Nusantara.

Mengunjak teras ke delapan, bagian ini dilengkapi rilief kisah Adiparwa serta relief kisah Sudamala serta dua arca Dwarapala. Di teras sembilan dan sepuluh dilengkapi pendapa. Pada teras sebelas, selain pendapa, juga ditemukan arca Nayagenggong, yang memiliki kaitan erat dengan kisah Sabda Palon. Sedangkan arca Sabda Palon sendiri ditemukan pada teras duabelas. Di halaman paling atas, yang ditandai dengan gapura masuk dan terdapat bangunan piramida terpancung atau lebih dikenal dengan sebutan trapezium. Jika diteliti lebih mendalam, makna simbolik pahatan-pahatan yang tergambarkan di Candi Ceto itu merupakan simbol kesuburan, mohon kesuburan dan kesejahteraan.

Candi yang terletak di lereng Gunung Lawu ini diperkirakan berdiri sekitar enam abad silam. Pengunjung yang hendak masuk ke kawasan ini mesti harus melakukan ritual kecil, semacam meditasi sebelum diizinkan masuk. Peninggalan purbakala berbentuk pura seperti di Bali ini hingga kini masih terjaga baik. Struktur candi naik ke atas. Jalan menuju ke atas candi diapit gapura tinggi.

Di sepanjang undakan ada berbagai relief sensualitas memesona mata. Ada pula gambar kura-kura yang melambang Dewa Wisnu. Jalan ke atas yang awalnya lebar makin lama makin menyempit. Menurut cerita, ini sebagai penggambaran bahwa jalan menuju nirwana atau surga makin lama makin kecil. Begitu sampai di puncak, kita disuguhi bangunan kubus seperti trapesium. Di sinilah orang banyak melakukan ritual semedi.

 

Penemuan Candi Ceto

Candi Ceto yang dibangun sekitar 1451 (akhir Kerajaan Majapahit) ini ditemukan oleh peneliti Belanda, Van der Vlis, pada 1842. Candi tempat pemujaan umat Hindu ini terdiri atas beberapa blok bangunan berupa teras berundak. Masing-masing dihubungkan dengan tangga dan pintu gerbang. Ada 13 blok yang tersusun dari barat ke timur, makin ke belakang kian tinggi dan dianggap paling suci.

Meski umur Candi Ceto jauh lebih muda dibanding Candi Prambanan (abad ke-9), relief dan patungnya justru menampilkan figur primitif. Penyebabnya, menurut alumnus Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada, Didiek Surjanto, perpaduan gaya Jawa Timur dengan budaya megalitik yang masih berkembang saat itu. “Candi Ceto diduga dibangun oleh penganut Hindu pelarian dari Majapahit yang tengah bergolak,” ujar Didiek, yang meneliti kepurbakalaan di lereng barat Gunung Lawu.

Sejak ditemukan Van der Vlis, Candi Ceto tak dipugar pemerintah. Pemugaran justru dilakukan oleh sekelompok paranormal yang dipimpin Soedjono Hoemardhani (almarhum) sekitar 1978. Berdasar petunjuk alam gaib, bekas asisten pribadi Presiden Suharto itu dan kawannya membuat sejumlah bangunan bertiang kayu beratap semen di atas fondasi lama. Bangunan itu berada di teras X hingga teras paling atas (teras XIII).

Soedjono juga memindahkan sejumlah patung dari tempatnya. Penasihat spiritual penguasa Orde Baru itu juga membuat bangunan berbentuk piramida terpancung di teras teratas, mirip bangunan puncak Candi Sukuh, candi umat Hindu yang terletak 6 kilometer dari Candi Ceto. Bangunan tambahan yang dibalut dengan kain merah-putih itu sebelumnya hanya fondasi tanah yang ditinggikan berbentuk trapesium dengan delapan tumpuk batu di atasnya.
Bangunan baru hasil pemugaran Soedjono itu masih bisa disaksikan sampai saat ini. Tapi, menurut Didiek, pemugaran itu boleh dikata ngawur karena menabrak kaidah arkeologis dan hanya berdasarkan petunjuk gaib. Namun, siapa pula yang berani mencegah tindakan penasihat spiritual Suharto kala itu? Bahkan, konon, Soeharto sering bersemadi di candi ini.

Penganut Kejawen hingga saat ini masih melakukan ritual di Candi Ceto. Biasanya dilakukan tiap malam Jumat Legi. “Mereka bersemadi dan berdoa di teras teratas ini,” ujar Winarno, juru kunci Candi Ceto.
Daya tarik utama candi ini sebenarnya adalah patungnya yang unik, terutama patung kelamin pria (phallus), seperti halnya di Candi Sukuh. Phallus ukuran raksasa terdapat di depan tangga masuk teras VIII Candi Ceto. Tatanan batu berbentuk segitiga sama sisi (305 sentimeter) terhampar di tanah. Pada ujung atas segitiga itu tergeletak batu bulat panjang (184 sentimeter) yang mengarah ke barat, berbentuk kelamin pria dengan tiga bulatan di ujungnya.
Patung kelamin pria (meski ukurannya jauh lebih kecil) juga terdapat di teras XIII atau teras teratas. Patung ini berada di bawah naungan bangunan kayu beratap ijuk yang dibangun Soedjono pada 1978. Para pengunjung candi ini sering meletakkan sesaji dan dupa di patung phallus.
Phallus adalah lingga dalam bentuk yang lebih realis. Lingga (berbentuk panjang) dan yoni (berbentuk lumpang) merupakan ciri khas candi umat Hindu. Perpaduan lingga dan yoni merupakan perwujudan Dewa Ciwa dengan Caktinya. Cakti adalah pasangan (wanita) Dewa Ciwa. Dewa ini akan penuh kekuatan dan bersifat aktif hanya bila bersatu dengan Caktinya. Perpaduan antara lingga dan yoni juga merupakan simbolisasi kesuburan.
Komposisi susunan batu di teras delapan paling menarik. Selain segitiga sama sisi dengan phallus besar di ujung atas segitiga, di belakangnya juga ada komposisi susunan batu yang membentuk figur garuda yang sedang membentangkan sayap. Di antara segitiga dan garuda, terdapat tiga batu pipih bulat yang dipahat menyerupai matahari dengan deretan sinarnya yang disebut Surya Majapahit. Konon, Surya Majapahit adalah lambang resmi Kerajaan Majapahit.
Jika dilihat dari anak tangga teras di atasnya, komposisi susunan batu di teras delapan ini terlihat indah sekaligus misterius.
Tak sulit untuk mencapai candi ini, meski jalan panjang bersapal menuju ke kawasan ini cukp terjal dan penuh kelokan. Lokasi candi yang berada di dataran tinggi, menyuguhklan pemandangan yang indah dengan hamparan kebun teh yang memesona. Apalagi udara sejuk selalu menyelumti kawasan ini. (Ganug Nugroho Adi)

 

———-

Sumber : http:// kabarsoloraya.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s